Praka MS Jadi Tersangka Dalam Kasus Penjualan Ratusan Butir Peluru ke KKB

Praka MS Jadi Tersangka Dalam Kasus Penjualan Ratusan Butir Peluru ke KKB – Praka MS, seorang anggota TNI yang tidak etis, menjadi tersangka kasus penjualan amunisi kepada masyarakat sipil. Warga mengakui, …

Fakta-fakta Kasus Polisi Tembak Teman Kencan di Pekanbaru

Fakta-fakta Kasus Polisi Tembak Teman Kencan di Pekanbaru – Bripda AP berusia 24 merupakan anggota dari Bareskrim Polsek Padang Panjang, Sumatera Barat. Tim The Associated Press melakukan perjalanan ke Pekanbaru, Provinsi …

Polisi Kembali Periksa Pembunuh 2 Wanita di Bogor

Polisi Kembali Periksa Pembunuh 2 Wanita di Bogor – Polisi kembali melakukan penyidikan lanjutan untuk mengusut pembunuhan berantai dua perempuan di Kota dan Kabupaten Bogor oleh pelaku Rian alias MRI (21). …

6 Hal yang Diungkapkan Peserta KLB Demokrat di Deli Serdang – Peserta Konferensi Perwakilan Khusus Demokrat Deli Serdang (KLB) Provinsi Sumatera Utara dibuka. KLB Partai Demokrat akan digelar di Hotel Hill di Sibolangit, Kabupaten Serdang, Delhi pada Jumat, 5 Maret 2021.

6 Hal yang Diungkapkan Peserta KLB Demokrat di Deli Serdang

Sumber : manadopost.jawapos.com

theologywebsite – Salah satu peserta KLB Partai Demokrat, Gerald Piter (Gerald Piter) mengaku jika ingin mengikuti ajang tersebut akan mendapat hadiah sebesar Rp 100 juta.

Dia juga menyatakan bahwa dia telah melaporkan masalah tersebut kepada Ishak Sugeha, ketua Republik Demokratik Republik Demokratik Partai Demokrat Kotamobagu. Namun, ajakan tersebut ditolak oleh Ishak.

Gerald mengatakan dalam video yang disiarkan oleh kantor Partai Progresif Demokratik: “Beri saya Rp 100 juta. Sesampainya di sana, saya dapat Rp25 juta dan sisanya Rp75 juta.” 2021 Pada Senin, 8 Maret, diadakan pertemuan di Jakarta.

Meski ragu, Gerrard mendatangi kediaman KLB Demokrat di Teheran (Del Serang). Tujuannya hanya untuk mendapatkan uang yang dijanjikan. Namun nyatanya Gerald hanya mendapat 5 juta rupiah.

Namun, politikus pro-KLB Deli Serdang Demokrat, Max Sopacua, menolak pernyataan Gerald.

Hencky Luntung, politisi Kamp Partai Wanita Dewasa Partai Demokrat ABN AMRO, juga membantah. Menurutnya, yang dialokasikan dalam KLB hanya biaya akomodasi, namun nilainya tidak melebihi Rp 100 juta.

Berikut sederet Hal yang Diungkapkan Peserta KLB Demokrat di Deli Serdang yang dihimpun oleh Liputan6.com:

1. Mengaku Dijanjikan Rp 100 Juta

Sumber : kompas.tv

Gerald Piter, anggota Dewan Perwakilan Khusus (KLB) Partai Demokrat Luar Biasa Der Serdang, mengaku jika ingin mengikuti acara ini akan mendapat komitmen Rp 100 juta.

Dia mengaku telah melaporkan kejadian tersebut kepada Ishak Sugeha, ketua DPC Partai Demokratik Demokratik Kotamobagu. Namun, ajakan tersebut ditolak oleh Ishak.

Gerald mengatakan dalam video yang disiarkan oleh kantor Partai Progresif Demokratik: “Beri saya 100jt. Sesampainya di sana, saya dapat 25jt dan sisanya 75jt.” Gathering, 2021 Senin, 8 Maret, Jakarta.

Gerald mengungkapkan bahwa orang yang mengundang dan menipunya untuk mendapatkan uang adalah seorang bernama Wakey Gandy. Menurutnya, Wakey merupakan mantan kader Partai Demokrat dan sudah tidak aktif lagi.

Pada tanggal 18 Februari, Pak Vecky mengundang saya untuk bergabung dengan KLB melalui pesan whatsapp untuk mengikuti konferensi tersebut, dan memilih ketua baru yang langsung dipanggil Pak Moeldoko. Katanya kami adalah gerbong dan sekarang menjadi pelatih Pak Moeldoko.

Baca juga : Fakta-fakta Ibu Dipenjara bersama Bayinya

2. Total Hanya Terima Rp 10 Juta

Sumber : liputan6.com

Meski tak yakin, Gerald akhirnya meninggalkan Deli Serdang untuk bergabung dengan KLB Demokrat. Tujuannya hanya untuk mendapatkan uang yang dijanjikan. Padahal, Gerald hanya mendapat ongkos Rp 5 juta.

Dia berkata: “Ternyata saya hanya dapat 5 juta rupiah yang membuat saya bingung. Kali ini saya menyadari bahwa dari awal proses dan semuanya, KLB ini memang salah.

Mantan Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Kota Kotamobagu itu mengaku marah dan memprotes karena tidak mendapatkan uang sesuai yang dijanjikan.

Gerald berkata: “Awalnya berjanji kepada panitia 100 juta rupee, tapi hanya 5 juta rupee. Kami protes dan kami sangat marah.”

Menurut dia, saat terjadi kerusuhan, Nazaruddin menambah lagi Rp 5 juta untuk kader Demokrat yang menghadiri KLB.

Gerald berkata: “Sambil membuat keributan tentang ini, Parker Nazaruddin menambahkan lagi 5 juta rupiah.”

Menurut Gerald, total uang yang dibawa pulang oleh total peserta KLB Partai Demokrat Sumut adalah 10 juta rupiah.

3. Diberi Uang Ketulusan, Hanya Uang Jalan dari Hasil Patungan Panitia KLB

Sumber : id.berita.yahoo.com

Konon peserta dari Deli Serdang, seorang KLB Demokrat, tak pernah menjanjikan Rp 100 juta. Awalnya mereka hanya mendapat 5 juta, dan Nazaruddin, seorang kader Demokrat yang pro-KLB, mendapat 5 juta lagi.

Kubu Demokrat KLB Hencky L Fortune mempertanyakan kesalahan Nazaruddin dalam memberikan uang. Ia mengatakan, Nazaruddin dengan ikhlas memberikan donasi kepada peserta KLB agar tidak terjadi keributan.

“Nah kalau ada yang ikhlas dan kaya, apa masalahnya? Tanyaku saja. Apa salah? Dia memberikan uang dengan ikhlas sehingga tidak perlu diributkan. Itu salah, itu dosa,” Hanji kata. , 9 Maret 2021.

Dia melanjutkan: “Nazaruddin dan bahkan Djoko Tjandra, jika dia keluar untuk membantu orang, tidak apa-apa? Tidak apa-apa? Ayo, dan orang-orang perlu makan juga.” Lanjutnya.

Menurutnya, tidak ada salahnya peserta KLB menerima uang dari Nazaruddin. Dia marah karena menyeret sesuatu ke arah yang negatif.

“Kalaupun Nazaruddin memberi dengan ikhlas, kenapa tidak diterima? Apa salahnya pemberian orang. Hanya itu yang disangkal.

Kemudian, menurut Hencky, yang dibagikan di KLB Partai Demokrat hanya berupa biaya akomodasi yang nilainya tidak sampai 100 juta rupiah.

Hanji berkata: “Ini adalah cerita yang digunakan sebagai sudut pandang. Ini sebenarnya membuktikan bahwa kami tidak memberikan Rs 100 juta, tetapi mengembalikan biaya perjalanan dan akomodasi.”

Sebaliknya, dia meminta kepada kader Demokrat yang hadir di KLB tuduhan sekitar 100 juta.

“Tanpa satu miliar rupee, dari mana? Dari mana uangnya? Saya katakan dari awal tidak ada uang kecuali transportasi, akomodasi, dan konsumsi,” kata Hanji.

Hencky bahkan mengklaim, Panitia KLB Demokrat juga merupakan perusahaan patungan untuk biaya akomodasi.

Dia bercanda: “Komite kami sebagian besar adalah pengusaha. Harap diperhatikan bahwa Hencky Luntung memiliki tiga perusahaan.” Namun, dia belum mau membeberkan besaran dana yang dihabiskan di KLB Demokrat.

Hanji menjelaskan: “Skalanya hanya normatif. Sejak saya mendirikan pertemuan ini, saya selalu menghidupi diri sendiri dan teman-teman saya.

4. Bantah Janjikan Uang Rp 100 Juta

Sumber : redaksi.waspada.co.id

Demokrat Pro-KLB Max Sopacua membantah pihaknya telah berjanji memberikan uang 100 juta rupiah kepada kader-kader yang ingin berpartisipasi di Deli Serdang.

Max berkata, “Saya kira tidak. Ini pendapat sebagian orang.” Namun, Max tak menjelaskan lebih jauh soal tudingan Partai Demokratik Pembebasan (KLB) digoda uang.

5. Sebut Keterlibatan Pemerintah dalam Kudeta Parpol Tercatat di Pemerintahan SBY

Sumber : nasional.kompas.com

Juru bicara Partai Demokrat mengatakan, menurut Partai Pembebasan, M Rahmad menunjuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) adalah era pemerintahan sebagai kali pertama pemerintah melancarkan kudeta di sebuah partai politik.

Rahmad mengatakan dalam webinar: “Jadi, catatan partisipasi pemerintah dalam kudeta partai adalah pada masa rezim SBY di Afrika Utara, bukan sekarang.”

Rahmad menuding kudeta SBY yang saat itu menjabat ketua dan ketua Dewan Pengawas Demokrat untuk menggulingkan kepemimpinan Anas Urbaningrum di partai.

Saat itu, menurut dia, sulit membedakan posisi presiden SBY dengan ketua pengurus partai yang “berbintang belas kasih”.

Pada saat yang sama, ini juga membantah tuduhan Partai Demokrat di kubu Chekas bahwa istana ikut campur dalam kekacauan, yang disebutnya sebagai konflik internal Partai Demokrat.

Dia berkata: “Oleh karena itu, tuduhan yang direncanakan oleh Pak Moeldoko lagi-lagi adalah tuduhan yang tidak benar dan tidak berdasar.”

Rahmed menjelaskan, pengambilalihan Partai Demokrat tidak didorong oleh Moeldoko. Menurut dia, Moeldoko hanya disarankan memimpin partainya menggantikan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) melalui KLB.

Rahmed mengatakan, pemilihan Moldco juga lolos evaluasi para pendahulu partai. Rahmad mengatakan: “Moldko diundang, tapi sejak awal tidak ikut campur. Tuduhan ini direncanakan oleh Park Moldko.”

Baca juga : Rencana Kementerian PUPR Pasca Intergrasi FLPP ke BP Tapera

6. Klaim Sudah Serahkan Hasil Kongres ke Kemenkumham

Kubu KLB Partai Demokrat Deli Sedan Sumatera Utara mengaku telah menyerahkan hasil KLB ke Kementerian Hukum dan HAM. Kubu KLB menyatakan telah mendaftarkan pengelolaan hasil KLB secara demokratis ke Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Konferensi pers yang diadakan di Jakarta pada hari Selasa mengatakan: “Kami memang memiliki tim kami sendiri. Informasi sebelumnya terdaftar di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.” 9 Maret 2021.

Razman mengatakan, hasil Kongres KLB telah diteruskan secara diam-diam ke Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Pihaknya menilai, pihaknya tidak ingin mengganggu konsentrasi Kemenkumham.

“Oleh karena itu, kami memang memiliki sikap tidak mencampuri fokus Kementerian Hukum dan HAM. Kami tidak sibuk datang. Kami tidak ingin ada informasi yang disebarluaskan ke media dan tidak mengganggu mereka, jadi mereka akan melakukannya. bukan “jangan berkonsentrasi.” Biarkan mereka belajar. “Kata Razman.

Sementara itu, Ilal Ferhard, anggota tim hukum Partai Demokrat KLB, mengungkapkan pihaknya melaporkan dokumen KLB ke Kementerian Hukum dan HAM pada pukul 14.00 WIB. Namun, dia enggan menjelaskan lebih lanjut.